dekorasirumahjati.com – Insiden tragis di Baturiti, Tabanan, yang berujung hilangnya nyawa gara-gara aksi main hakim sendiri masih terus jadi omongan. Kejadian ini sukses bikin banyak orang auto kepikiran kalau pemahaman soal hukum dan hak asasi manusia ternyata masih wajib banget diperkuat sampai ke pelosok desa.
Read More : Porprov Bali XVI/2025: Panjat Tebing Ditunda, Atlet Harus Tunggu Cuaca Cerah!
Nggak mau kejadian kayak gini terulang lagi, Kementerian HAM langsung gercep menjadikan peristiwa tersebut sebagai alarm keras. Menurut mereka, sekarang waktunya gaspol memperluas edukasi soal hukum dan HAM biar masyarakat makin paham kalau semua persoalan harus diselesaikan lewat jalur yang benar.
Kementerian HAM Auto Gercep, Edukasi Hukum Bakal Digaspol Sampai Pelosok
Kementerian HAM menilai tragedi di Baturiti jadi tamparan keras buat semua pihak. Soalnya, masih ada masyarakat yang diduga belum memahami pentingnya menghormati proses hukum dan nilai-nilai hak asasi manusia saat menghadapi sebuah persoalan.
Staf Khusus Menteri HAM Bidang Transformasi Digital dan Komunikasi Media, Thomas Harming Suwarta, menjelaskan kalau konflik yang berujung aksi kekerasan di lingkungan masyarakat sering muncul karena minimnya pemahaman soal HAM dan mekanisme hukum yang benar. Makanya, edukasi dinilai jadi kunci biar kejadian serupa nggak gampang terulang.
Menurut Thomas, insiden ini justru bikin Kementerian HAM makin semangat buat turun langsung ke masyarakat. Program sosialisasi bakal terus digencarkan supaya warga makin melek hukum dan nggak gampang terpancing emosi saat menghadapi masalah.
Harapannya, kalau masyarakat udah makin paham aturan hukum, setiap persoalan bisa diselesaikan lewat jalur resmi. Jadi nggak ada lagi tindakan yang malah bikin masalah baru atau berujung merugikan banyak pihak.
Baca juga: Lahan Sempit di Lapas Tabanan Disulap Jadi Peternakan Ayam, Panennya Nggak Kaleng-Kaleng
Kolaborasi Bareng Desa Auto Sat-Set, Biar Warga Makin Melek HAM
Nggak cuma berhenti di omongan, Kementerian HAM juga langsung sat-set nyusun program kerja sama bareng pemerintah desa dan kecamatan. Langkah ini sudah mulai dijajaki di wilayah Baturiti dan Sidatapa sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Lewat kolaborasi ini, warga diharapkan nggak cuma kenal istilah hukum, tapi juga benar-benar paham gimana cara menyelesaikan persoalan tanpa harus mengambil tindakan sendiri. Intinya, semua masalah ada jalurnya dan harus diserahkan kepada pihak yang berwenang.
Thomas juga menegaskan kalau sosialisasi soal hukum dan HAM nggak boleh cuma sekali lewat. Edukasi harus terus dilakukan supaya kesadaran masyarakat makin meningkat dan kebiasaan menyelesaikan masalah secara damai bisa terus tumbuh.
Kalau semua pihak kompak, mulai dari pemerintah, aparat, perangkat desa, sampai masyarakat, suasana yang aman dan saling menghormati bakal lebih gampang diwujudkan. Itu juga jadi langkah penting buat mencegah konflik yang nggak diinginkan.
Desa Nggak Cuma Jaga Adat, Tapi Juga Auto Jadi Benteng Nilai Kemanusiaan
Kementerian HAM berharap desa-desa di Bali nggak cuma keren karena adat dan budayanya, tapi juga makin sadar hukum dan menghargai hak sesama. Sosialisasi bakal terus digenjot biar warga paham, masalah jangan diselesaiin pakai emosi atau main hakim sendiri. Dengan edukasi yang jalan terus, masyarakat diharapkan makin bijak, pilih musyawarah dan jalur hukum saat ada konflik. Semoga kejadian di Baturiti jadi pelajaran penting, biar suasana makin adem, rukun, dan kejadian serupa nggak kejadian lagi.




